Wednesday, January 21, 2009

Me and Polisi

Dunia itu kok kayaknya memang serba kebetulan ya. Sesaat sebelum nulis catatan ini, saya membaca berita di okezone tentang lembaga negara paling korup, yaiut Polri. Nah, sebelumnya lagi, saya dan teman-teman ngobrol tentang kejadian-kejadian lucu yang berhubungan dengan polisi. Obrolan panjang tentang aparat berbaju coklat tersebut berawal dari acara John Pantau yang "menangkap" bapak polisi di Bali yang kepergok CCTV menerima sogokan 100 ribu dari turis asing yang tidak pake helm (masih ingat kan tayangan di Youtube yang memalukan itu?). Dari sinilah obrolan saya dan teman-teman merembet seputar ulah (katanya sih) oknum polisi. Berikut ini beberapa kisah yang saya nukil dari banyak kisah yang diceritakan:
1. Waktu itu teman kantor saya masih mahasiswa. Berhubung dia mahasiswa hubungan internasional (biar terlihat keren ceritanya) dia mengundang dubes Amerika ke kampusnya di Jatinangor. Nah, mendekati jam yang dijanjikan, dia menelepon sang dubes. "Iya nih, gue dah mo keluar tol," begitu kira-kira jawab sang dubes. Logikanya, setelah keluar tol, waktu tempuh ke kampus tinggal 10 menitan. Tapi sudah 20 menit sang dubes gak datang. Karena khawatir, sang kajur (kepala jurusan) menelepon sang dubes. "Saya ada masalah," kira-kira begitu jawab sang dubes. Dengan rasa khawatir sang kajur ngabur menemui dubes di dekat tol. Usut punya usut, sang dubes ditangkap polisi. Tahu nggak alasannya? Mobil dubes dianggap menyalahi aturan, karena plat mobilnya berwarna putih dengan tulisan hitam. Kata pak polisi, itu salah, harusnya plat berwarna hitam dengan tulisan putih. OMG, polisi ini lulusan SD aja kali ya. Kalo ada mobil dengan plat CD kan harusnya tahu dia siapa. Bener-bener malu-maluin polisi satu ini
2. Kisah ini terjadi pada teman yang lain di bunderan HI. Teman yang satu ini waktu itu juga masih kuliah, terjadi sekitar tahun 1999. Dia dan empat temannya bermaksud mengambil uang di ATM (Kan gak enak kalo mo hang out gak ada duit). Apesnya di bunderan HI dia distop polisi, karena melanggar rambu. Diawali dengan ceramah (seperti biasa), Pak polisi meminta jatah. Dia dan teman-temannya mengatakan bahwa mereka tidak punya uang dan baru mo ke ATM. Tapi pak polisi gak mau tahu. "Ah, gak mungkin gak ada duit. Kalo dikumpulin pasti juga ada," begitu kira-kira kata pak Polisi. Masing-masing lantas mengeluarkan dompetnya dan terkumpul 11.500. "Pak cuma ada ini, gimana?" kata temanku. Awalnya pak polisi terlihat enggan. Tapi setelah menimbang dan menaksir bahwa kelihataan nih kumpulan orang emang gak punya duit, akhirnya diterima juga duit itu. Waduh...waduh...
3. Kisah ketiga menimpa teman saya dan suaminya. Karena satu alasan dia ditangkep polisi. Seperti biasa pak polisi pun bla..bla...bla...Kasusnya ini mirip dengan kasus kedua, dia gak punya uang, karena belum ke ATM. Seperti umumnya orang, suami teman ini memasang tampang memelas dan mengatakan bahwa dia gak punya yang karena belum ke ATM. Tapi Pak polisi tak mau tahu dan bilang, "itu kan ada temannya." Dia pun nyamperin sang istri minta duit 20 ribu. Di kasihlah duit itu. "Dompetmu masak gak ada duitnya?" kata pak polisi. Lantas si suami teman membuka dompet dan terlihat uang 8.000 perak. "Ya udah itu sekalian, buat anak buahku," kata Pak polisi. Waduh, ini polisi apa tukang kuras dompet ya? ck...ck...ck...
Tiga cerita tersebut tentu saja hanya sebagian sangat kecil yang berhubungan dengan perilaku polisi nakal yang kadang bikin gregetan, tapi tak jarang juga bikin gerrrrr. Jadi saya kira survei dari TII tersebut bukan cukup berdasar dan mereka tidak salah dalam menerapkan metode poling. Semoga polri bisa memperbaiki diri.

0 comments: