Laki-laki itu, sebut saja Dirman seorang karyawan pabrik semen, terlihat kasak-kusuk menjelang tidurnya. Tidak seperti biasa, matanya sulit terkatup malam ini. Padahal seharian ia bekerja dan badan terasa lelah. Pikirannya masing melayang-layang mengenai keinginannya untuk membeli kambing, untuk kurban tahun ini. Tapi uang di kantong tidaklah mencukupi untuk membeli seekor kambing yang harganya sekitar satu juta rupiah.
"Dik, aku kok gak tenang ya kalau sampai gak kurban seperti tahun-tahun sebelumnya," katanya kepada istrinya.
"Tapi kan kita lagi banyak keperluan, Mas. Kemarin habis pulang lebaran itu saja tabungan kita habis. Mana lagi apa-apa sekarang harga pada naik," istrinya mencoba menolak secara halus keinginan suaminya. Ia bukannya tidak mau berkurban, tapi keuangan memang kurang memungkinkan.
Namun sang suami bergeming. Ia akan tetap berkurban. Keesokan harinya ia bertanya kepada temannya di mana bisa membeli kambing yang harganya miring. Ditunjukanlah ia ke tempat peternaknya langsung. Di peternak itu Dirman langsung meminta harga kambing yang paling murah, tapi sudah memenuhi syarat. "Tujuh ratus ribu pak. Ini juga yang terakhir," kata sang penjual. Sebagai tanda jadi, ia memberi sang peternak uang 100 ribu. "Kurangnya nanti kalau saya mau ambil kambingnya ya pak." kata Dirman.
Dirman belum tahu bagaimana ia melunasi kekurangannya. Memang ia bisa membayarnya dengan uang gajian bulan depan, tapi uang untuk beli susu anaknya bisa terancam. Tapi tak apalah, ia yakin pasti ada jalan keluar. Toh, seandainya harus mengurangi susu anaknya atau makan seadanya bulan depan ia sudah siap. waktu terus berjalan hingga hari kurban kurang lima hari lagi. Padahal H-1 ia harus mengambil kambing itu dan melunasinya. Ia pun menghitung ulang pos mana yang bisa diirit bulan depan.
H-2 pagi, Dirman masih serius menghitung keuangannya. Tak apa-apalah sedikit prihatin bulan ini kata Dirman. Siang hari seorang temannya datang padanya, ia meminta bantuan untuk membuatkan desain undangan sekaligus mencetakkannya (Dirman memang kerja sampingan kerja desain undangan kecil-kecilan). Tak disangka tak dinyana, temannya tersebut memberikan uang 800 ribu di depan, di luar ongkos cetak. Legalah Dirman. Ia bisa membayar sisa uang pembayaran kambing. Bahkan ada sisa uang untuk membelikan susu anaknya.
H-1 akhirnya Dirman mendatangi peternak kambing tersebut dan melunasi kekurangannya. Kambing pun dibawa pulang. Sesampai di rumah, sebuah amplop ada di atas meja. Dari siapa nih, katanya dalam hati. Setelah dibuka ternyata amplop tersebut berisi voucher belanja 50 ribu. "Terima kasih Anda sudah berpartisipasi dalam lomba poster yang kami adakan." Isi surat dari sebuah perusahaan printer tersebut.
Ternyata niat Dirman untuk berbagi langsung mendapat kemudahan dari Tuhan. Selain kemudahan membeli kambing, ia mendapatkan bonus 150 ribu dari sisa pekerjaan dan voucher tersebut. Dirman dan istrinya pun sadar, bahwa memberi tak akan membuat harta mereka berkurang, justru Tuhan akan menambahkannya.
(Cerita ini dikisahkan kepada saya sehari sebelum Hari Raya Idul Kurban Senin lalu)
"Dik, aku kok gak tenang ya kalau sampai gak kurban seperti tahun-tahun sebelumnya," katanya kepada istrinya.
"Tapi kan kita lagi banyak keperluan, Mas. Kemarin habis pulang lebaran itu saja tabungan kita habis. Mana lagi apa-apa sekarang harga pada naik," istrinya mencoba menolak secara halus keinginan suaminya. Ia bukannya tidak mau berkurban, tapi keuangan memang kurang memungkinkan.
Namun sang suami bergeming. Ia akan tetap berkurban. Keesokan harinya ia bertanya kepada temannya di mana bisa membeli kambing yang harganya miring. Ditunjukanlah ia ke tempat peternaknya langsung. Di peternak itu Dirman langsung meminta harga kambing yang paling murah, tapi sudah memenuhi syarat. "Tujuh ratus ribu pak. Ini juga yang terakhir," kata sang penjual. Sebagai tanda jadi, ia memberi sang peternak uang 100 ribu. "Kurangnya nanti kalau saya mau ambil kambingnya ya pak." kata Dirman.
Dirman belum tahu bagaimana ia melunasi kekurangannya. Memang ia bisa membayarnya dengan uang gajian bulan depan, tapi uang untuk beli susu anaknya bisa terancam. Tapi tak apalah, ia yakin pasti ada jalan keluar. Toh, seandainya harus mengurangi susu anaknya atau makan seadanya bulan depan ia sudah siap. waktu terus berjalan hingga hari kurban kurang lima hari lagi. Padahal H-1 ia harus mengambil kambing itu dan melunasinya. Ia pun menghitung ulang pos mana yang bisa diirit bulan depan.
H-2 pagi, Dirman masih serius menghitung keuangannya. Tak apa-apalah sedikit prihatin bulan ini kata Dirman. Siang hari seorang temannya datang padanya, ia meminta bantuan untuk membuatkan desain undangan sekaligus mencetakkannya (Dirman memang kerja sampingan kerja desain undangan kecil-kecilan). Tak disangka tak dinyana, temannya tersebut memberikan uang 800 ribu di depan, di luar ongkos cetak. Legalah Dirman. Ia bisa membayar sisa uang pembayaran kambing. Bahkan ada sisa uang untuk membelikan susu anaknya.
H-1 akhirnya Dirman mendatangi peternak kambing tersebut dan melunasi kekurangannya. Kambing pun dibawa pulang. Sesampai di rumah, sebuah amplop ada di atas meja. Dari siapa nih, katanya dalam hati. Setelah dibuka ternyata amplop tersebut berisi voucher belanja 50 ribu. "Terima kasih Anda sudah berpartisipasi dalam lomba poster yang kami adakan." Isi surat dari sebuah perusahaan printer tersebut.
Ternyata niat Dirman untuk berbagi langsung mendapat kemudahan dari Tuhan. Selain kemudahan membeli kambing, ia mendapatkan bonus 150 ribu dari sisa pekerjaan dan voucher tersebut. Dirman dan istrinya pun sadar, bahwa memberi tak akan membuat harta mereka berkurang, justru Tuhan akan menambahkannya.
(Cerita ini dikisahkan kepada saya sehari sebelum Hari Raya Idul Kurban Senin lalu)





0 comments:
Post a Comment