Judul dan kisah ini terbetik setelah tadi siang membaca surat pembaca di okezone. Tulisan tersebut intinya menggugat harga promo soft drink dan deterjen. Penulis surat pembaca tersebut komplain karena harga promo 13.000 ternyata di kasir harus membayar 15.000 alias tidak ada promo. Begitu pun dengan harga soft drink yang tertulis 7.000 ternyata harus dibayar 9.000 rupiah alias tidak ada promo juga. Dari surat pembaca tersebut saya teringat kisah saya beberapa hari lalu.
Belum ada seminggu ini saya membeli kaos kaki di Carrefour. Kalo gak salah harganya 12.800. Saya pun membayar dengan uang 20 ribu dan kembalian harusnya 7.200. Ketika memberikan kembalian, mas-mas kasir berkata, "Maaf, tidak ada 200." Udah gitu aja. Ya udah saya (tidak) ikhlaskan uang tersebut. Habis mo gimana lagi kalo dia nyerah bilang gak ada 200.
Masalahnya bukan saya tidak rela uang 200 gagal masuk di kantong saya. Tapi ke manakah uang 200 perak tersebut lari? Tak ada penjelasan dari mas-mas tersebut. Harusnya Carrefour sebagai perusahaan besar punya sistem keuangan yang transparan. Lah, kalo cuma saya seorang tidak masalah. Tapi kalau 200 kali seribu pembeli sudah berapa? Itu kalo sehari. Kalo sebulan tambah berapa lagi. Harusnya Carrefour mempertimbangkan uang-uang receh seperti ini, karena ini bukan kejadian pertama saya. Saya sudah dua kali mengalami hal seperti ini.
Kalau tak ada penjelasan apa-apa dari Carrefour mengenai uang-uang receh tersebut, wajar kan saya berburuk sangka. Sebab, di super market lain, saya sering merelakan receh saya. Ada satu super market yang kasirnya rajin "meminta" uang kembalian. "Pak sisa 500-nya disumbangkan ya?", yang selalu saya iyakan permintaan tersebut. Karena ke mana uang tersebut pergi jelas, untuk disumbangkan. Setiap bulan juga ada laporan uang sumbangan tersebut mulai dari besaran dan tujuan sumbangannya. Bila seperti in, pasti sebagian besar pembeli tak ada keberatan jika kembaliannya diminta. Tapi untuk kasus Carrefour, pasti banyak orang bertanya-tanya ke mana uang kembalian tersebut pergi.
Yah, semoga Carrefour dan supermarket lain yang menerapkan kebijakan "receh" yang tak jelas larinya ini segera mengubah kebijakannya. Semoga super atau hyper market yang sudah kaya raya itu menjelaskan bahwa uang kembalian yang tak kembali kepada pembeli tersebut digunakan untuk apa. Kalau bisa sih disumbangkan ke orang yang membutuhkan. Jadi kita yang kehilangan receh bisa rela dan ikhlas dengan uang yang "hilang" tersebut.
Belum ada seminggu ini saya membeli kaos kaki di Carrefour. Kalo gak salah harganya 12.800. Saya pun membayar dengan uang 20 ribu dan kembalian harusnya 7.200. Ketika memberikan kembalian, mas-mas kasir berkata, "Maaf, tidak ada 200." Udah gitu aja. Ya udah saya (tidak) ikhlaskan uang tersebut. Habis mo gimana lagi kalo dia nyerah bilang gak ada 200.
Masalahnya bukan saya tidak rela uang 200 gagal masuk di kantong saya. Tapi ke manakah uang 200 perak tersebut lari? Tak ada penjelasan dari mas-mas tersebut. Harusnya Carrefour sebagai perusahaan besar punya sistem keuangan yang transparan. Lah, kalo cuma saya seorang tidak masalah. Tapi kalau 200 kali seribu pembeli sudah berapa? Itu kalo sehari. Kalo sebulan tambah berapa lagi. Harusnya Carrefour mempertimbangkan uang-uang receh seperti ini, karena ini bukan kejadian pertama saya. Saya sudah dua kali mengalami hal seperti ini.
Kalau tak ada penjelasan apa-apa dari Carrefour mengenai uang-uang receh tersebut, wajar kan saya berburuk sangka. Sebab, di super market lain, saya sering merelakan receh saya. Ada satu super market yang kasirnya rajin "meminta" uang kembalian. "Pak sisa 500-nya disumbangkan ya?", yang selalu saya iyakan permintaan tersebut. Karena ke mana uang tersebut pergi jelas, untuk disumbangkan. Setiap bulan juga ada laporan uang sumbangan tersebut mulai dari besaran dan tujuan sumbangannya. Bila seperti in, pasti sebagian besar pembeli tak ada keberatan jika kembaliannya diminta. Tapi untuk kasus Carrefour, pasti banyak orang bertanya-tanya ke mana uang kembalian tersebut pergi.
Yah, semoga Carrefour dan supermarket lain yang menerapkan kebijakan "receh" yang tak jelas larinya ini segera mengubah kebijakannya. Semoga super atau hyper market yang sudah kaya raya itu menjelaskan bahwa uang kembalian yang tak kembali kepada pembeli tersebut digunakan untuk apa. Kalau bisa sih disumbangkan ke orang yang membutuhkan. Jadi kita yang kehilangan receh bisa rela dan ikhlas dengan uang yang "hilang" tersebut.





0 comments:
Post a Comment