Telah Meninggal dunia “Begawan” sejarah Indonesia Sartono Kartodirjo jam 1 pagi. Dimakamkan besok tgl 8 Nov.
Begitulah SMS yang kuterima dari nomor yang 0817XXX yang belum ada di Phone book HPku. Deg, jantungku seolah berhenti sejenak di atas laju bis jurusan Bogor-Bekasi. Pak Sartono, sejarawan dan guru bagi banyak orang Indonesia. Ia adalah sebutir intan di dunia sejarah Indonesia yang meletakkan dasar-dasar ilmu sejarah kritis di Indonesia.
Dalam hidupku, tak banyak kesempatan sebenarnya bertemu dengan beliau. Pertama kali melihat sosoknya adalah ketika acara stadium general bagi mahasiwa baru jurusan sejarah UGM. Meskipun aku mahasiswa baru yang sebenarnya ‘tersesat’ di jurusan sejarah, gema kebesaran nama Sartono Kartodirjo sudah kudengar. Meskipun terus terang bingung mendengar penjelasannya mengenai seluk beluk dunia sejarah di Indonesia, seneng juga bisa mendengarkan wejangan langsung dari Pak Sartono.
Kebingunganku semakin bertambah setelah membaca Bukunya yang berjudul Dari Emporium ke Imperium. Ah, dasar otak terbatas, baca karya besar jadi mentok tapi setelah membaca beberapa bukunya yang di beberapa bagian tetap membingungkanku, aku semakin ngeh, bahwa pak sartono adalah orang yang hebat dengan pengetahuan sangat luas.
Saya kira, teman tak kukenal nomor HP-nya tersebut tak perlu menambahkan tanda kutip pada kata Begawan. Bagi saya, Sartono Kartodirjo memang seorang Begawan sejarah dalam arti sesungguhnya. Ia adalah orang yang konsisten memajukan sejarah Indonesia dalam perspektif ilmu, dan selalu konsisten memegang ‘kebenaran’ sejarah.
Selain tulisannya tentang Pemberontakan Petani Banten, Metodologi Sejarah dan Sejarah Indonesia Baru, buku babon Sejarah Nasional (kalau tidak salah 6 jilid) adalah karya besar beliau. Tapi untuk buku panduan ‘resmi’ sejarah nasional Indonesia, ada sesuatu yang unik dalam kisah penulisannya, jika ditautkan dengan Sartono. Beliau tidak ikut seri terakhir dan memilih mengundurkan diri, karena merasa pada jilid tersebut (yang menulis Indonesia kontemporer termasuk pergantian kekuasaan dari Orla ke Orba) ada sesuatu yang kurang beres dan bermuatan politis. Jilid tersebut terlalu berbau pesanan Orba. Oleh karena itu, beliau memilih tidak ikut menyusunnya.
Konsistensi untuk menjaga objektivitas sebagai sejarawan dan tidak memihak mana pun (termasuk penguasa yang galak) adalah satu nilai yang sangat mengagumkan dan diikuti oleh penerus beliau termasuk Pak Kuntowijoyo almarhum. Selain konsisten berpatok pada objektivitas, peranan beliau dalam meletakkan dasar sejarah nasional dan sejarah sosial—yang diejawantahkan lewan disertasi Pemberontakan Petani Banten—adalah kontribusi yang sulit ditandingi oleh sejarawan lain di Indonesia.
Beliaulah yang membuat para sejarawan bergerak dan sadar, bahwa sejarah Indoesia bukan hanya dilakukan orang-orang besar seperti Diponegori, Sultan Agung, Sukarno, Hatta dan nama besar lainnya. Rakyat kecil seperti petani, pedagang, dan pegawai rendahan juga punya peran besar dalam menggerakkan roda sejarah bangsa.
Meskipun, saya pernah ‘diusir’ karena nyelonong ke rumahnya dan sedikit memaksa untuk melakukan wawancara, hal tersebut sama sekali tak mengurangi respek saya terhadap Pak Sartono. Ia salah satu guru—meskipun tak pernah mengajarku di kelas—paling berarti dalam proses pergulatanku sebagai mahasiswa sejarah dan kemudian menyadarkanku bahwa sejarah itu penting.
Pak Sartono, terima kasih atas ilmu yang ditularkan kepada saya. Selamat jalan Pak Sartono. Semoga mendapat tempat terbaik. amin
Friday, December 07, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)





0 comments:
Post a Comment