Powered by Blogger.

rafa kecilku

rafa kecilku

Thursday, February 04, 2016

Malu Bertanya, Diomelin Orang Sekampung

by the writer  |  in Mau Bertanya Nggak Sesat di Jalan at  9:01 AM

Nuryono dan Riyanto menggenjot pedal sepedanya dengan cepat. Saya mencoba mengejar mereka. Saya tahu mereka lelah seperti saya. Tapi kami harus segera sampai di kampung, karena sebentar lagi jalan di tengah sawah ini akan menjadi gelap gulita. Cerita pocong yang suka nongol di tikungan sebelum jalan kampung, sudah pasti membuat kami bergidik.
Alhamdulillah, kami mencapai ujung kampung ketika adzan maghrib berkumandang. Loloslah kami dari penampakan pocong yang sering diceritakan orang-orang kampung. Namun, ketika kami bertiga melintas rel kereta yang membatasi jalan kampung dan jalan tengah sawah, pemandangan yang tak kami duga tersuguh di depan mata. Belasan orang kampung menunggu di jalan dekat rel. Tentu saja ibu-ibu kami ada di antara mereka.
Bukan sambutan tepuk tangan atau salawat yang kami terima, tapi omelan dari ibu kami dan juga para tetangga. “Pergi gak pamit, pulang jam segini. Kirain ilang diculik orang!” itu salah satu omelan yang kami terima. Kami pun mengkeret takut dan merasa mengecil. Selanjutnya, jeweran di telinga kami terima. Kejadian tak terlupakan ini bermula dari: Malu Bertanya, akhirnya kami sesat dijalan. Seandainya kami Mau Bertanya, Nggak Sesat di Jalan deh.
Kejadian ini terjadi bertahun-tahun lalu banget, saat saya kelas 3 SD. Jadi cerita awalnya bermula saat kami bertiga merencanakan bersepeda dari kampung kami di Ceper menuju Cawas. Kedua daerah tersebut ada di daerah Klaten, Jawa Tengah. Setelah berdiskusi—cie serius amat pake diskusi segala—kami memutuskan menyambangi saudara Nuryono di Cawas, untuk minta kelereng. Kami bertiga mengayuh sepeda dengan semangat meski matahari terasa panas menyengat. Seingat saya kami berangkat sekitar jam 2 siang.
Setelah menempuh perjalanan hampir sejam. Saya bertanya apakah rumah saudara Nuryono sudah dekat. “Bentar lagi,” begitu jawab Nuryono. Hingga sejam lebih, ketika ditanya apakah sudah dekat, jawabnya pasti bentar lagi. Kami baru sadar salah jalan ketika kami melihat tulisan SMA 1 Karangdowo. Jelas kami tersesat! (Waktu kecil ternyata kami hebat. Kemarin ketika saya cek di aplikasi peta, ternyata jarak rumah kami ke SMA 1 Karangdowo sekitar 10 km!)
Setelah sadar salah jalan, kami putar balik. Sampai pertigaan Pedan, kami coba belok ke kiri. Setelah menganyuh beberapa saat, ternyata kami tak juga menemukan jalan ke rumah saudaranya. Nuryono ternyata lupa arah ke rumah saudaranya! Berabe! Akhirnya kami putuskan untuk bertanya arah pulang. Seorang bapak menunjukkan arah kepada kami. Pulanglah kami mengayuh sepeda dengan ngos-ngosan. Sudah tak jadi dapat kelereng, eh pulang-pulang dapat omelan orang sekampung.
Dari situ saya belajar, Mau bertanya itu membuat kita nggak sesat di jalan. Kebiasaan itu saya bawa sampai sekarang. Meskipun ada GPS dan aplikasi peta, jika saya ragu dengan arah tujuan, saya tetap bertanya. Lha GPS bisa menyesatkan juga kok. Teman saya pakai GPS waktu ke Lampung disesatkan di pinggir jurang!
Tidak hanya soal urusan jalan, untuk hal-hal yang tidak mengerti pun saya bertanya. Ketika saya tidak tahu atau tidak yakin kandungan obat yang diresepkan, saya bertanya kepada dokter atau apoteker. Bila saya ingin tahu produk perbankan secara lebih jelas, saya tanya kepada pihak bank yang valid seperti @BNI46 di #AskBNI.

By the way, saya baru sadar ternyata dua twit terakhir saya bertanya tentang produk perbankan :D Bagusnya, sekarang pertanyaan nasabah di media sosial pun mendapat respon yang cepat. So, jangan malu bertanya ya. Mau Bertanya Nggak Sesat di Jalan deh. Info lengkap soal bertanya agar tak tersesat ada di sini
Foto: Agung M

Jogja adalah Romansa

by the writer  |  in Muhi Jogja at  12:41 AM

Pertengahan 1995. Itulah tahun pertama saya tinggal (semi) permanen di Jogja. Saya ingat, pertama kos di Jogja di daerah Blunyah Gede, tak jauh dari sekolah saya, SMA Muhammadiyah I, biasa disingkat MUHI. Kalo teman-teman di kampung saya biasa memlesetkannya menjadi Kamandiyah. Saya tak tahu dari mana awalnya pleseten tersebut. Ketika ditanya sekolah di mana, teman-teman yang sekolah di Muhammadiyah akan menjawab: Kamandiyah. 
Kos pertama saya letaknya ada di seberang AAN Notokusumo. Hanya sak plintengan, kalau orang Jawa bilang, dari akademi administrasi tersebut. Menempati ruang di ujung belakang, saya membayar sewa selama enam bulan di kos tersebut. Biaya sewa perbulan waktu itu 33 ribu, jadi saya membayar 198 ribu untuk kos setengah tahun. Ruangnya standar ukuran, sekitar 3x3 meter dan motor harus masuk ke kamar, karena tidak tersedia garasi. Awal-awal kos, saya dipinjami motor oleh kakak yang kuliah di STIE Widya Wiwaha. Tapi untuk mobilitas selama Geta (gema ta’aruf alias ospek). Namanya harus Islami dong, Kamandiyah. 
Selepas Geta, ya kemana-mana saya harus jalan kaki atau naik angkot. Kalau sekolah pasti jalan kaki, karena jaraknya hanya sekitar 2-3 km saja. Untuk bepergian kalau tak terlalu jauh ya jalan, kalau agak jauh ya kombinasi jalan dan naik bis kota. Ini bukan urusan hidup sehat, tapi urusan hidup hemat. Misalnya saja kalo pas pengen ke Malioboro, saya biasanya berangkat naik bisa kota, pulang jalan santai menyusuri Jl. Mangkubumi, AM Sangaji. Itu demi ngirit ongkos, bukan motivasi biar langsing. Wong dulu saya sudah kurus kok. 
Oh ya, ngomong-ngomong soal Geta alias ospek, Aula sekolah adalah tempat paling saya ingat di sekolah. Selain tempat ini banyak digunakan sebagai tempat kegiatan, ada kejadian-kejadian mengejutkan. Kejadian pertama adalah ketika didatangi teman baru. Orangnya gemuk, putih, dengan pembawaan tenang. Awalnya ngobrol biasa, tentang asal dari mana. Kos di mana. Di ujung pembicaraan, teman yang asli Jogja tersebut berkata: 
“Kowe doyan hing ora?” 
“Heh, hing ki opo?” tanya saya dengan polos, karena waktu itu saya belum menguasai bahasa walikan.
“Benik.” 
“Aku wis duwe benik akeh,” kataku tetap dengan polos. 
Dan teman tersebut akhirnya ngeloyor hahahaha. Hing atau benik ternyata istilah untuk menyebut pil koplo. Untuk waktu itu saya masih alim—sekarang pun juga masih alim sih.
Selain urusan hing alias pil koplo. Saya pernah menjadi peserta terakhir yang meninggalkan aula. Tunggu jangan buruk sangka dulu. Saya jadi peserta terakhir bukan karena dihukum. Seperti saya bilang saya anak alim. Jadi waktu itu ada acara renungan. Biasalah baca puisi melo gitu. Seingat saya cewek-cewek pada nangis. Nah itu renungan lama banget. Jadi nangisnya juga pada lama. 
Setelah acara selesai, peserta disuruh kembali ke kelas masing-masing. Nah, pas saya mau berdiri, kaki saya seolah lalu. Lumpuh. Ternyata saya kesemutan dahsyat. Melihat saya gak bisa berdiri, pasukan keamanan mendekat. Sempat jiper juga sih. Ternyata mereka membantu saya untuk menyembuhkan kesemutan. Dari situ saya jadi tahu cara menyembuhkan kesemutan. Luruskan kaki dalam posisi selonjoran, ujung jari-jari ditekuk ke dalam ke arah dengkul. Lumayan efektif untuk menyembuhkan kram juga. Dua kejadian di atas dalah kejadian di Aula yang tak terlupakan. 
Oh ya, pertama saya datang ke Jogja harga nasi telor di warung Mak Ujang di dekat kos 500 rupiah dan harga nasi ayam 600 rupiah. Kalo makan nasi kucing—biasanya malam hari—saya malah bisa hanya menghabiskan 400-450 rupiah saja. Kalo ke angkringan, biasanya saya ngampiri atau nyamperin teman yang kosnya gak jauh dari kos saya. Angkringan paling sering ditongkrongin ya angkringan dekat sekolah, dekat perempatan Blunyah arah SMA 4 di Jalan Magelang. Biar nasinya keras dan bikin seret, yang penting murah. Lagian, nasi keras kan lebih awet kenyangnya. 
Itu cerita awal saya tinggal di Jogja. Makanan murah dan teman yang ramah sekaligus koplak membuat saya jatuh hati pada Jogja. Tulisan ini sebagai bentuk ucapan ulang tahun yang terlambat dari saya. Meskipun saya tak mencintai Sultan, karena dia sudah berkeluarga, terus terang saya sangat cintai Jogja. Menurut saya, Jogja bukan sekadar kota, Jogja adalah sebuah romansa. 
*Nanti saya sambung lagi cerita soal Jogja. Kamu sendiri punya cerita apa soal Jogja? Apa… cerita cinta?

Tulisan lawas dari: http://www.kompasiana.com/agungmarhaenis/jogja-adalah-romansa_5615c3bb2cb0bd670f3f55f8
Sumber foto: sudah ada watermark-nya ya. 

Tuesday, April 15, 2014

Berandal, Déjà vu Bertalu-talu

by the writer  |  in the raid berandal at  8:47 AM

De javu itu ada di mana-mana, termasuk di dalam gedung bioskop. Nah, kemarin pas nonton The Raid 2: Berandal, saya mengalami déjà vu berkali-kali. Film ini adalah film paling banyak mengingatkan saya pada film-film lainnya. Nyontek kah film ini? Cek dulu satu-satu adegan yang membuat saya jadi teringat film lain.
Adegan awal film ini ketika Rama nongkrong di toilet dengan muka kelam mengingatkan pada film Mongol. Adegan Temujin ketika di penjara di sel khusus dalam adegan lambat dalam kondisi duduk terdiam karakternya mirip dengan Rama sebelum adu pukul. Karakter kelam tapi waspada sekaligus kejam diperankan dan dieksekusi dengan baik di film ini. Btw, toilet memang beneran tempat eksekusi terbaik di lapas. Gak jauh beda seperti di toilet sekolah yang sering jadi lokasi eksekusi bully.
Soal adegan gelut di lapas giliran saya ingat film Serigala Terakhir. Film Indonesia yang keren dengan alur yang cukup ajib. Soal adegan tentu lebih cakep Berandal. Tapi keduanya cukup dapet menggambarkan konflik di dalam lapas yang memang ada geng-gengan dan rawan konflik. Oh ya, salah satu adegan terbaik di lapas adalah ketika gelut di lapangan berlumpur menurutku. Dan ada satu adegan yang mengingatkan pada film Hero yaitu ketika tetesan air jatuh di ember. Ingat aja adegan Jet Li pas mau duel pas hujan-hujan itu. Tetesan airnya di zoom detil pake slow speed itu cakep.
Adegan lain yang cukup keren adalah pas Alicia si gadis palu melakukan eksekusi di kereta. Kalau adegan ini mengingatkan pada film Blood: The Last Vampire. Saya sendiri lupa ada adegan duel di kereta apa gak, tapi gaya Alicia mirip dengan Saya (nama tokoh utama) yang cantik, dingin, tapi mematikan. Apalagi senjatanya sama-sama ganda serupa. Bedanya Saya pake samurai, sedangkan Alicia pake Palu.
Adegan lain yang saya suka adalah duel di dalam mobil Opel Blazer pas Rama diapit kanan-kiri di kursi tengah. Beda adegan tapi jadi inget film Bourne. Gimana caranya dengan tangan atau benda-benda yang ada di sekitar seseorang bisa melumpuhkan bahkan membunuh lawannya. Sebenarnya adegan membunuh dengan tangan (khususnya dengan motek leher) banyak. Tapi yang terasa masuk akal dan digarap dengan apik gak banyak. Dan adegan tarung di mobil itu keren banget dalam Berandal.
Apalagi ya… Oh ya adengan masak, eh duel di dapur. Pas Rama siap berdual dengan—ah… siapa nama tokoh yang diperankan Cecep Arif Rahman—si sabit ganda itu juga ngingetin sama Hero. Ketika saling masang kuda-kuda terus diam sejenak itu ala-ala memberi penghormatan sekaligus mengukur kemampuan lawan. Konon kalo punya ilmu beladiri tinggi bisa ngukur beneran kemampuan lawan.
Oh ya, jangan lupakan Midun Sengsara Membawa Nikmat adengan  masak, eh, duel di dapur ini. Kuda-kuda dan kembangannya (khas pencak silat ini) digambarkan dengan keren. Gak kalah sama kuda-kudanya Midun yang fenomenal. Pukulan bonang (apa ya bahasa Indonesia alat musik ini) yang meningkahi adegan tarung ini juga pas banget. Alat musik ini memang paling pas buat mengiringi tarung pencak silat. Teteup langsung ingat Midun pokoknya.
Itu beberapa adegan di film Berandal yang mengingatkan pada film-film lain. Dan film-film tersebut adalah film-film yang saya sukai. Otomatis, saya menyukai film Berandal. Apakah adegan-adegan dalam Berandal menjiplak? Rasanya tidak. Kalo terinpirasi adegan film lain ya sangat mungkin dan sah-sah saja. Tapi benar tidaknya harus tanya Gareth Evans.
Satu yang pasti dan mutlak, film ini dipersiapkan dan dieksekusi dengan sangat baik. Koreografi dan sinematografinya wajib di acungi jempol. Beberapa angle kameranya juga suka. Yang paling saya ingat adalah pas Rama keluar lapas dengan angle kamera dari atas. Keren menurut saya. Pokoknya saya kasih bintang 9 dari 10, karena bintang 7 sudah terlalu mainstream.
 

Friday, February 07, 2014

Mbak Nur is not a Stranger

by the writer  |  in penginapan pacitan at  1:53 PM


Mumpung tulisan Don't date a girl who travels masih anget, ingatan saya juga masih anget selepas jalan-jalan ke Pacitan-Klaten-Jogja, dan di bis agak selo buat nulis, jadi ya harus disempatin nulis catatan perjalanan.
Soal tulisan Don't date a girl who travels emang keren. Tapi saya tak hendak bikin resensi soal tulisan itu atau tentang cewek (cowok juga keleus) yang pantas untuk diajak ngedate etc etc etc. Saya hanya mau bilang kalau suka banget pada satu bagian tulisan tersebut yaitu: She talks to strangers. She will meet many interesting, like-minded people from around the world who share her passion and dreams.
Nah, rangkaian kalimat tersebut yang menarik. Tapi, kalimat pertama sebenarnya yang paling menarik bagi saya. Talks to strangers. Inilah salah satu hal yang paling saya sukai dalam sebuah perjalanan atau boleh disebut traveling atau apa pun itu namanya. Itu pula yang selalu coba saya lakukan, termasuk ketika kemarin ke Pacitan-Klaten-Jogja. Dan salah satu stranger--ah, sebenarnya saya gak suka istilah ini--adalah mbak Nurjanah.
Mbak Nur sebenarnya yang memulai obrolan. Ketika ia sedang membersihkan kamar sebelah tempat saya menginap, tanpa dikomando dia berkata: "Naik ke lantai atas mas. pemandangannya lebih bagus. Nginep di atas sebenarnya lebih enak mas. Udah pemandangannya lebih bagus, cuma 60 ribu lagi," katanya setengah berpromosi tapi juga memberi saran yang tulus dan terdengar masuk akal. Kamar saya sendiri seharga 110 ribu rupiah.
Saya tak langsung naik, tapi tanya sedikit tentang penginapan yang saya singgahi dan tentang mbak Nur sendiri. Dari obrolan itu saya jadi tahu kalau pemilik Harry’s House adalah seorang dokter di Puskesmas Tegal Ombo, daerah Pacitan yang berbatasan dengan Ponorogo. Dia dokter yang hobi surfing dan sudah 6 tahun mendirikan penginapan ini. 

Dari obrolan dengan mbak Nur saya jadi tahu kalau doi punya satu anak dengan perjuangan lumayan panjang. Sempat telat nikah (versi mbak Nur), yaitu di usia 30 tahun, dia juga harus wara-wiri buat terapi agar punya anak. Setelah hamil, dia juga harus berjuang lagi untuk proses persalinannya, karena tidak bisa melahirkan normal. Doi harus ke Solo untuk persalinan Caesar, karena RS di Pacitan peralatannya kurang memadai.
Oh ya, mbak Nur juga bercerita kalau anaknya habis jatuh dari sepeda dan tulang kakinya patah. Ia juga bercerita bahwa di usianya yang sudah 40 tahun, dia bisa diberi satu anak lagi. Untuk menemani anak tunggalnya sekarang. Meski banyak hal tak berjalan mulus, tapi dia tetap bersyukur dengan apa yang dia dapat sekarang. Dan menurut saya dia berkata jujur. Sikap sumeleh yang harus saya kagumi.
Ngobrol dengan mbak Nur, rasanya saya bertemu dengan kerabat di kampung yang dah lama gak bertemu. Yang tak sungkan berbagi cerita, hanya untuk sekedar berbagi kabar saja. Meski baru pertama bertemu, rasanya mbak Nur bukan orang asing bagi saya. She’s not a stranger.
Nah, tapi mbak Nur gak cuma cerita soal dirinya dan keluarga. Dia juga cerita tentang Pantai Pancer yang indah dan bisa didatangi tinggal gelinding (hiperbolik sih)—dan beruntung saya sempat ke tempat ini. Dia juga bercerita tentang Ryan si penjaga penginapan yang ternyata instruktur surfing—berharap saya bisa datang lagi dan berlatih surfing. Dia juga merekomendasikan tempat makan enak di Pacitan—sungguh langka cari makan enak di kota ini.
Bertemu dengan orang lain dalam sebuah perjalanan selalu menyenangkan bagi saya. Selalu ada hal baru yang bisa saya dapat. Ingat dulu di Mentawai gara-gara ngobrol sama “strangers” malah dikasih setengah karung durian. Di lain waktu bisa snorkling di spot yang sangat cantik di Mentawai juga gegara ngobrol sama nelayan yang sedang berburu ikan, kemudian bisa pinjam peralatan snorklingnya yang sederhana.
Selalu menyenangkan bertemu dengan “strangers” dalam sebuah trip, perjalanan, traveling atau apa pun itu namanya. Kalau kita tak membuat sebuah batas, tak merasa berbeda dengan mereka, rasanya kita akan mendapat banyak hal dalam sebuah perjalanan. Bahkan, mungkin lebih indah dari birunya langit, kokohnya karang, gagahnya gunung, sunset yang meleleh atau hal-hal indah yang tampak di depan mata dan terekam lewat rana kamera.  
Oh ya, akhirnya saya naik ke lantai 3 penginapan dan mendapatkan gambar indah—menurut saya—dan berikut ini gambarnya. Makasih sarannya mbak Nur. 

Friday, January 03, 2014

Ke Klayar... Ke Klayar

by the writer  |  at  6:15 PM
Foto dipinjam dari: blog.kliktoday.com
 Pengen ke sini. Itu saja saja. Buat ngisi blog yang sudah lama pingsan :)












 

Thursday, August 20, 2009

Berburu Berkah di Bulan Ramadhan

by the writer  |  in ramadhan di kampus at  12:06 PM

Ramadhan adalah bulan berkah bagi setiap muslim, termasuk aku. Cerita paling berkesan di bulan Ramadhan bagiku terjadi ketika aku tinggal di Jogja, medio SMA sampai kuliah. Banyak sekali cerita terukir di Indonesia mini ini kala Ramadhan. Bagi banyak orang, Ramadhan adalah bulan berlimpah berkah dalam bentuk pahala. Tapi bagi aku dan teman-teman kos maupun teman kampus, Ramadhan adalah bulan berkah dalam arti denotatif.Dan aku merasa sebagai salah satu anak kos paling beruntung di seantero Jogja, bahkan mungkin Indonesia. Ibu kos ku adalah salah satu ibu kos paling oke Jogja. Bagaimana tidak? Selama sebulan penuh, anak kos di tempatku mendapatkan jatah sahur gratis selama sebulan penuh! Padahal anak kosnya ada sekitar 10 orang. Hebat bukan? Semoga ibu, bapak dan embah kos serta anak cucunya diberi kesehatan selalu dan dilancarkan rejekinya. Dan tradisi saur gratis di kos ini berlangsung selama bertahun-tahun. Suasan guyub khas Jogja terjadi pada prosesi ini, karena ibu mengajak anak-anak kos makan di ruang tengah keluarga. Kami pun merasa menjadi keluarga besar. (Sebagai bocoran lain kebaikan ibu kosku: Aku pernah telat bayar kos setengah tahun hehehehehe)
Berkah di bulan puasa tak hanya datang dan hadir di depan mata via ibu kos. Ada banyak berkah di kota Jogja yang bisa saya nikmati, yaitu melalui ta'jil di kala buka puasa. Kala itu, bersama teman-teman kos, saya biasa melakukan Safari Ramadhan ala pejabat negara. Tapi safari Ramadhan ini lebih membumi dan berbekas di hati. Safari Ramadhan ala anak kos di tempatku adalah mencari ta'jil gratis di masjid di seputaran Jogja.
Tapi tunggu dulu, biar terlihat tidak sekedar cari makan dan benar-benar mencari berkah, kita tidak asal mencari ta'jil di sembarang masjid. Biar terlihat menghargai budaya dan sejarah Islam di Jogja, biasanya aku dan teman-teman mencari ta'jil di masjid bersejarah di Jogja. Masjid yang biasa kami kunjungi adalah Masjid di dalam tembok keraton Kota Gede, Masjid Pakualaman, Masjid Gede alun-alun utara, Masjid Syuhada, Masjid Kampus UGM dan tentu saja masjid di dekat kos yang hanya perlu jalan kaki. Bagi saya sendiri, suasana paling seru adalah makan di Masjid Kota Gede. Arsitektur masjid yang unik dan keguyuban suasananya sangat menyenangkan, karena kebanyakan pesertanya hanya orang-orang di seputaran masjid.
Berkah di bulan puasa tak berhenti di situ. Sebagai salah satu penghuni setia Kampus Biru, saya juga sering menginap di loker HMJ di kala puasa. Meski tidur di kampus, biasanya saya dan teman2 tidak pusing untuk mencari berkah sahur. Alternatif pertama tentu saja Masjid kampus UGM. Selain itu, di Gelanggang UGM juga sering ada nasi bungkus gratis. Di Fakultas saya, biasanya juga ada stok makanan 'semalam' bila ada acara khusus.
Jadi untuk urusan makan, hampir sebulan penuh saya tidak mengeluarkan uang makan. Paling kalau malam ingin wedangan di angkringan baru keluar ongkos untuk segelas teh jahe dan beberapa potong gorengan. Terus terang, saya kangen suasan puasa di kota Jogja. Meski saya tak mungkin memasuki lorong waktu ala Doraemon dan mengulangi masa-masa segar itu, tapi kenangan itu lekat di hati dan otakku. Semoga, puasa lusa, saya bisa mendapatkan berkah yang tak kalah berharga dan bermakna dari berkah yang saya dapat di Jogja dulu. Amin.
Selamat berpuasa bagi yang menjalankannya dan selamat berjumpa dengan lagu:
Setiap habis ramadhan, hamba cemas kalau tak sampai
Umur hamba di tahun depan, berilah hamba kesempatan

Thursday, August 06, 2009

Ronda, Yuk Mareee....

by the writer  |  at  7:15 AM
Sebagai warga baru di sebuah komplek perumahan, tentunya saya harus bersosialisasi. Hari pertama saya pindah, langsung disambut dengan rapat RT. Ikutlah saya di rapat tersebut. Agenda yang dibahas antara lain persiapan peringatan 17 Agustus dan masalah keamanan lingkungan. Personil keamanan dari developer yang dipangkas tinggal satu orang dan hanya berjaga dari pagi hingga petang membuat warga harus melakukan ronda malam.
Saya sendiri ndak tahu pembagian jadwalnya begimana. Tapi sebagai warga yang tinggal di situ saya bertanya pada pak RT, bagaimana penjadwalan ronda dan saya dapat apa. Setelah di tanya hari libur saya apa dan saya jawab sabtu-minggu, maka pak RT memutuskan bahwa saya dapat jadwal di hari sabtu. Malam minggu kemarin adalah premier saya bertugas di pos ronda. Datang jam 12 malam dan ternyata di pos ronda sudah banyak peserta. Tak lama setelah sampai sudah ditodong panitia untuk ikut lomba gaple tingkat RT. Setelah mengiyakan dan membayar uang lomba sebesar 5 ribu, saya langsung bermain. Dari 4 orang pemain akan diambil dua orang untuk masuk babak selanjutnya. Ternyata eh, ternyata saya ada di peringkat kedua dan lolos ke babak berikutnya.
Setelah lomba selesai dan dilanjut ngobrol dan ngopi, ada ajakan lagi untuk bermain remi. Tapi ini bukan perlombaan, hanya sebagai cegak lek, pencegah ngantuk, begitu orang Jawa bilang. Metode yang dipilih adalah kasaran, begitu orang tempat saya bilang. Jadi boleh pararel dan boleh mengambil angka di tengah. Misalnya angka 4 dan 6 boleh mengambil angka lima. Kartu yang dipegang pun boleh lebih dari 7. Tanpa saya duga dan saya sangka, ternyata saya memimpin dari lap awal hingga lap akhir yang rampung jam 4 pagi. Waduh, bisa dikira gambler sama tetangga-tetangga kalau gini.
Jam 4 pagi adalah akhir dari sesi perdana ronda saya. Habis itu gak bisa tidur. Jam 9 pagi kemarin juga menjadi hari perdana Rafa berenang. Saya sempat khawatir dia bakal takut, karena pengalaman pertama. Gak tahunya, dia kegirangan gak mau naik. Wah, tiap akhir pekan bisa dapat dua ajakan nih. Dari grup ronda bakal berkata: Ronda, yuk mareee.... dari Rafa: Ayah, renang yuk....

Proudly Powered by Blogger.