Powered by Blogger.

Sunday, January 07, 2018

Leuwi Hejo, Destinasi Wisata 3 in 1 di Bogor

by the writer  |  in wisatabogor at  2:04 PM

Kamu tinggal di Jabodetabek dan cari lokasi traveling yang seru tapi tidak terlalu jauh? Leuwi Hejo adalah jawabnya. Kalo gak percaya pegang gadgetmu sekarang dan buka browser lalu ketik kata kunci Leuwi Hejo. Pasti kamu akan mupeng. Itu yang terjadi pada saya ketika mendengar diskusi dua karyawan mini market yang ngobrol heboh banget setelah jalan-jalan ke Leuwi Hejo. Setelah saya browsing, saya langsung berpikir: saya harus jalan-jalan ke tempat ini.
Leuwi Hejo ternyata lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah saya, yaitu di daerah Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Tetanggaan dengan rumah saya yang terletak di Kecamtan Citeureup. Saya pun esok harinya langsung meluncur ke lokasi setelah tahu lokasi ini dan ternyata saya menyesal. Saya menyesal mengapa sangat terlambat tahu destinasi wisata yang jaraknya hanya 20 kilometer dan bisa ditempuh dalam waktu 30 menit. Tapi waktu itu setelah saya tanya kepada penjaga parkir, lokasi wisata ini memang belum terlalu lama dibuka.
Pertama, perlu saya terangkan dulu Leuwi Hejo itu tempat apaan. Nama Leuwi Hejo diambil darai Bahasa Suda. Leuwi artinya lubuk atau grojokan kalau orang Jawa bilang. Leuwi adalah cekungan di sebuah aliran sungai dan biasanya terdapat arus deras di atasnya. Sedangkan hejo artinya hijau. Leuwi Hejo adalah nama yang diberikan masyarakt untuk menggambarkan lubuk yang airnya berwarna hijau bening. 

Apa saja yang bisa didapat bila jalan-jalan ke Leuwi Hejo? Berikut ini hal-hal amazing yang bisa kamu rasakan saat traveling ke Leuwi Hejo.
Renang di sungai sebening kaca
Pernahkan kamu melihat kaca dari sisi samping atau bagian tipisnya? Warna hijau bening itulah yang bisa ditemui di Leuwi Hejo. Air sungai Leuwi Hejo berwarna hijau, karena pengaruh lumut yang menempel di bebatuan dan kedalaman airnya. Untuk air di aliran yang dangkal warnanya bening seperti air mineral. 

Ada banyak alternatif tempat berendam dan berenang di tempat ini selain Leuwi Hejo. Ada Leuwi Cepet, Leuwi Lieuk, dan Leuwi Cibaliung. Favorit saya adalah Leuwi Cibaliung. Mengapa jadi tempat favorit? Karena tempatnya masih sepi dan tidak banyak pengunjung. Hanya saja kita perlu perjuangan untuk sampai lokasi ini. Kita harus berjalan dengan jalur menanjak dengan waktu perjalanan sekitar 1,5-2 jam. Tergantung berapa sering kita beristirahat dan selfie-wefie.
Tapi percayalah, begitu sampai tempat ini semua rasa lelah dan ngos-ngosan terbayar lunas. Leuwi berwarna hijau bening dengan panorama indah terpampang di depan mata. Tentu saja harus nyemplung dan berendam di leuwinya. Airnya dingin sejuk, khas air pegunungan. Airnya sebening air di kolam renang hotel berbintang lima. Tentu saja air di sini bebas kaporit.
Oh ya, bila beruntung, kita bisa melihat segerombolan monyet yang berlompatan di pepohonan yang ada di perbukitan di atas Leuwi Cibaliung. Bagi kamu yang hobi aktivitas luar ruang, Leuwi Cibaliung masuk kategori highly recommended. Dijamin gak rugi main ke sini.
Hiking
Kegiatan kedua yang bisa dilakukan adalah hiking. Ada banyak pilihan medan dan level yang bisa dipilih. Bila ingin hiking tipis-tipis (ringan), Leuwi Hejo adalah pilihannya. Jalurnya cukup landai, hanya ada tanjakan-tanjakan ringan. Bahkan anak saya yang berumur 4,5 tahun kuat kok diajak hiking ke Leuwi Hejo—tapi pulangnya minta gendong. Lokasi ini cocok untuk jalan-jalan bersama keluarga.
Bila ingin hiking dengan medan yang lebih menantang, jalur Leuwi Cepet, Leuwi Lieuk, dan Leuwi Cibaliung adalah pilihannya. Tanjakannya lebih menantang dan umumnya kita perlu berhenti di beberapa titik setelah melewati tanjakan tajam untuk sekadar mengatur napas dan minum seteguk dua teguk air. Kecuali kamu yang biasa naik gunung, mungkin medannya tidak terlalu merepotkan.
Khusus untuk Leuwi Cibaliung, ada beberapa titik yang kamu harus berjalan melewati sungai, karena tidak ada jalan setapaknya. Tapi tenang, sebagian besar ada jalan setapak di pinggir sungai yang bisa dilewati. Tapi seperti saya bilang tadi, hiking ke Leuwi Cibaliung akan terbayar lunas ketika sampai di lokasi. Sangat indah. 

Menikmati view ciamik
Bagi kamu yang biasa ditinggal di tengah kota seperti Jakarta, menikmati perbukitan hijau dengan hamparan sawah hijau pasti bakal menjadi pemandangan yang membuat fresh. Tidak hanya di dalam lokasi wisata di Leuwsi Hejo, beberapa lokasi menuju tempat wisata ini juga terdapat pemandangan sawah dan sungai yang sangat menawan.
Kamu bisa berhenti sekitar 5-10 menit untuk sekadar memotret pemandangan tersebut. Beberapa lokasi bahkan ada titik selfie dan wefie yang sudah dirancang warga sekitar. Ada yang gratis, ada juga yang bayar 5 ribu rupiah untuk foto sepuasnya. Selfie dengan latar belakang persawahan dan perbukitan hijau sangat Instagramable dan akan membuat iri teman-temanmu.
Bila kamu berangkatnya pagi-pagi sekali sebelum atau menjelang matahari terbit, kamu bisa mendapatkan sunrise yang menenangkan jiwa. Sangat disarankan membawa kopi panas bila berangkat pagi-pagi. Melihat sunrise sambil menyeruput kopi panas menjadi kombinasi terbaik. Eh, minum teh hanget juga oke sih. 

Itulah tiga aktivitas seru yang bisa dilakukan di sekitar Leuwi Hejo. 3 in 1 activity in one place. Keindahan Leuwi Hejo adalah sepotong surga yang terbentang di Perbukitan Hambalang. Di luar kasus korupsi yang pernah menghebohkan negeri ini, terdapat sepotong surga yang sangat layak untuk dinikmati.
Untuk mencapai lokasi Leuwi Hejo, ada dua jalur utama yang bisa dipilih. Pertama melalui Citeureup-Tajur-Sukamakmur dan yang kedua adalah Sentul City-Babakan Madang-Gunung Pancar. Untuk rute pertama, kamu bisa keluar pintu tol Citeureup bila membawa mobil, untuk rute kedua kamu bisa keluar pintu tol Sentul Selatan.
Untuk menuju ke Leuwi Hejo, saya menyarankan lebih baik lewat Citeureup, karena tanjakannya lebih manusiawi. Kalau lewat Sentul ada beberapa tanjakan curam yang akan merepotkan bila motor atau mobilmu ceper. Kecuali kamu naik mobil offroad atau motor trail tidak masalah mau lewat mana saja.
Tertarik jalan-jalan ke lokasi ini? Silakan hubungi saya. Bila saya senggang nanti saya antarkan. 

Foto-foto: Agung Marhaenis

Thursday, January 04, 2018

Bisakah van Dijk Menjadi Juru Selamat Pertahanan Liverpool?

by the writer  |  in Virgil van Dijk at  7:47 AM
Foto: standard.co.uk
Liverpool baru saja menuntaskan mega transfer center back Virgil van Dijk dari Southampton yang memecahkan rekor transfer bek termahal di dunia.  Nilai transfernya sebesar 75 juta Poundsterling atau sekitar Rp1,3 triliun. Bingung membayangkan seberapa besar uang tersebut? Bila kamu berniat membeli mobil sejuta umat yang satu unitnya berharga Rp200 juta, uang tersebut bisa dibelikan 6.500 unit mobil. Banyak ya? Sudah bisa untuk mendirikan perusahaan taksi tuh.
Lantas apakah harga selangit Virgil van Dijk memenuhi harapan Jurgen Klopp untuk memperkokoh tembok pertahanan Liverpool? Dalam beberapa tahun belakangan, lini pertahanan Liverpool memang menjadi aib bagi The Kop. Separoh lapangan, yaitu dari gelandang hingga striker hampir tanpa masalah. Permainan mereka kompak dan tajam. Liverpool saat ini menjadi tim tersebut kedua di Premier League dengan 50 gol di bawah pimpinan klasemen Manchester City dengan 64 gol. Sangat produktif.
Tapi bila membicarakan masalah kebobolan, rasanya Klopp harus menundukkan atau bahkan menutup muka. Dari tim 5 besar di Premier League, Liverpool adalah tim paling sering memungut bola dari gawang, karena sudah kebobolan 25 gol. Bandingkan dengan tim 3 besar di atasnya yaitu City 13 gol, Manchester United 16 gol, dan Chelsea 16 gol. Bahkan Tottenham yang berada di bawahnya baru kebobolan 20 gol. Tak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan pertahanan Liverpool selain: AIB! Setiap pendukung Liverpool (seperti saya) paham masalah ini. 
van Dijk vs Joel Matip

Kehadiran van Dijk tentu saja diharapkan menutup keteledoran pemain belakang Liverpool yang rapuh, khususnya dalam mengantisipasi bola mati dan bola atas. Sosok van Dijk memang menjadi sosok yang tepat untuk menutup kelemahan itu. Berdasar statistik dari website Premier League, pemain Belanda keturunan Suriname ini memenangkan duel udara mencapai 75%, jauh di atas Joel Matip 61,05% dan Dejan Lovren 64,43%. 
van Dijk vs Dejan Lovren

Duel udara selama ini menjadi titik lemah Liverpool bila terjadi tendangan bebas atau tendangan penjara. Hadirnya van Dijk yang memiliki kemampuan mengesankan dalam duel udara adalah keuntungan besar bagi Liverpool. Fakta bahwa van Dijk sudah bermain di Liga Inggris juga menjadi nilai positif, karena dia seharusnya tak perlu adaptasi dalam waktu lama dengan permainan Liga Inggris yang keras.
Data statistik juga menujukkan bahwa van Dijk unggul dalam hal total duel dan interception (memotong umpan lawan) dibading Matip dan Lovren. Data ini tentu saja tidak hanya membuat gembira Klopp, tapi juga para suporter Si Merah di seantero jagat. Bila tembok pertahanan Liverpool diperbaiki dan lebih sulit ditembus lawan, The Kop bisa percaya diri dalam menghadapi persaingan Premier League.
Hadirnya van Dijk  hampir bisa dipastikan pertahanan Liverpool akan lebih baik. Namun, masih ada celah yang perlu diperbaiki oleh Klopp yaitu sektor bek kiri dan kiper. Andrew Robertson saat ini tampil cukup baik walau belum impresif seperti Trent Alexander-Arnold. Sisi pertahanan kiri harus menjadi perhatian khusus, karena selama ini celah paling sering disusupi striker lawan, terutama bila Alberto Moreno menjadi starter.
Kiper juga menjadi PR lain. Bila Liverpool bisa memiliki penjaga gawang sekelas Ederson, Cortuis, atau De Gea, tidak terlalu muluk-muluk bila mereka menargetkan Juara Premier League. Kinerja Karius dan Mignolet belum membuat tenang para pendukung The Reds. Dua penjaga gawang ini berada di peringkat 17 dan 19 peringkat pemain Liverpool yang dilansir Whoscored. Bila tak ada peningkatan signifikan, mencari penjaga gawang adalah pilihan yang wajib dilakukan, bila Liverpool ingin merengkuh gelar Premier League yang absen dari Anfield selama 28 tahun. 

Tulisan ini juga bisa di baca di sini

Saturday, December 30, 2017

Mengajarkan Kids Zaman Now Cinta Rupiah

by the writer  |  in Rupiah at  5:08 PM
Capture pdf Bank Indonesia. 

Sebagai orangtua zaman now, sudah kewajiban saya mengajarkan ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat bagi anak-anak. Saya memfasilitasi anak-anak dengan buku bacaan yang baik. Baik di sini bukan dihitung dari harga buku yang mahal, tapi buku yang cocok untuk usia perkembangan mereka. Ilmu dan pengetahuan itu bisa didapat dengan biaya terjangkau, karena sebagian besar buku anak-anak saya beli dengan harga diskon.
Sesekali saya juga mengajak anak-anak ke pameran buku. Di situ saya bisa mengajarkan cara menggunakan uang dengan bijak. Saya memberi gambaran, misalnya dengan uang Rp100 ribu kita bisa membeli buku diskon di pameran sebanyak 5 eksemplar. Sementara bila membeli buku dengan harga normal kita hanya bisa mendapatkan 1-2 buah buku.
Pada satu waktu setelah pulang dari pameran buku, Rafa, anak sulung saya yang duduk di kelas 3 bertanya kepada saya, “Ayah, memang zaman Majapahit sudah ada uang?”
“Sudah. Uang itu sudah ada dari zaman dulu dan digunakan sebagai alat transaksi,” jawab saya dengan sedikit takjub, karena Rafa langsung melahap buku yang saya belikan. Buku yang bercerita mengenai peninggalan kebudayaan masa lalu di Nusantara tersebut salah satu bab-nya mengupas mengenai uang kuno.
Pertanyaan Rafa adalah kesempatan yang baik bagi saya untuk mengenalkan mata uang Rupiah kepadanya. Mengenalkan dan mengajarkan tentang uang kepada anak adalah perkara susah-susah gampang. Mengenal pecahan uang memang mudah. Tapi membuat anak Cinta Rupiah dan bijak dalam memanfaatkannya bukan perkara mudah menurut saya. Apalagi kids zaman now bukan tipe yang cocok diceramahi seperti kids zaman old.
Saya pun merancang kegiatan edukasi Rupiah kepada Rafa dan Azka. Eh, sebenarnya lebih ke Rafa sih. Kalau adiknya masih usia 3 tahun, jadi mungkin belum terlalu paham. Tapi untuk pengenalan awal sih oke.
Berikut ini tiga hal yang saya lakukan agar anak-anak saya, kids zaman now, bisa Cinta Rupiah.

Mengunjungi Museum Bank Indonesia

Foto: www.kemendikbud.go.id
Tempat belajar paling baik bagi anak-anak adalah tempat di mana dia melihat dan merasakan langsung apa yang dipelajari. Oleh karena itu, saya mengajak anak-anak mengunjungi Museum Bank Indonesia di sebuah akhir pekan. Kunjungan museum ini penting untuk memperkaya pemahaman anak-anak mengenai mata uang sebagai alat tukar dan sejarah panjangnya. Apalagi Rafa juga suka sejarah seperti saya, jadi lebih mudah mengajaknya tanpa perlu diprotes.
Benar dugaan saya, anak-anak menikmati tour ke Museum Bank Indonesia. Museum ini adalah salah satu museum terbaik di Indoseia. Bangunan lama yang terawat dengan baik, koleksi yang lengkap, dan informasi yang disajikan dengan berbagai format mulai dari koleksi asli, diorama, dan konten multimedia benar-benar memanjakan pengunjung. Anak-anak saya sangat menikmati tour ini.
“Keren ya ayah museumnya. Tadi ada video uang melayang di tembok. Pas dipegang bisa keluar informasinya. Terus yang ada orang di dalam bank itu tadi aku pikir orang beneran. Akhirnya aku juga bisa melihat uang Ma, uang zaman Majapahit. Ternyata dulu pernah ada uang 1 Rupiah juga ya. Lucu. Masak belanja pakai uang 1 Rupiah. Permen saja satu sudah 3 ratus,” kata Rafa.
Diorama di Museum Bank Indonesia yang menawan. Foto: Agung Marhaenis. 

Saya pun menjelaskan semudah dan segamblang mungkin mengenai mata uang yang pernah ada di Indoensia dan nilainya berubah dari waktu ke waktu. Nilai 100 Rupiah zaman sekarang dengan zaman saya waktu kecil tentu saja berbeda. Hal substansial yang saya ajarkan kepada anak-anak adalah bahwa uang itu adalah alat tukar yang sangat penting dan berharga.
Sangat menarik bila museum yang berisi edukasi Rupiah dan mata uang seperti ini ada di kota-kota lain di luar Jakarta. Semakin banyak jumlahnya, tentu semakin baik untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya Rupiah di Indonesia.

Mencintai Rupiah adalah mencintai Indonesia
Capture pdf Bank Indonesia. 

Dalam perjalanan pulang, giliran saya bertanya kepada Rafa, “Rafa, gambar apa saja yang ada dalam mata uang Rupiah yang kamu lihat tadi?”
“Gambar pahlawan.”
“Nah, dengan mencintai Rupiah, kamu juga bisa menjadi pahlawan, karena uang adalah simbol negara yang harus dihormati. Mencintai simbol negara sama dengan mencintai negara.”
“Bukannya simbol negara itu Garuda Pancasila dan Bendera Merah Putih ayah?” sanggah Rafa.
“Tidak hanya itu nak. Mata Uang Rupiah juga termasuk simbol negara.”
Saya pun menjelaskan bahwa Rupiah sebagai simbol negara diatur dalam Undang-undang, yaitu UU No. 7 Tahun 2011 Pasal 35. Biar pembaca tahu, saya kutipkan juga ya UU tersebut, khususnya Pasal 35 ayat 1, yaitu:
Setiap orang yang dengan sengaja merusak, memotong, menghancurkan, dan/atau mengubah Rupiah dengan maksud merendahkan kerhormatan Rupiah sebgai simbol negara sebagaimana dimaksud Pasal 25 ayat (1) dipidana dengan pidaha penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu milir rupiah).
Itu kutipan lengkapnya yang saya dapatkan dari website BankIndonesia. Tentu saya menjelaskan kepada anak-anak tidak dengan membaca lengkap seperti pengacara membaca undang-undang. Saya menjelaskan substansinya bahwa kita harus Cinta Rupiah. Caranya adalah dengan menghargainya dan tidak boleh merusaknya. Bahkan menstreplesnya pun tidak boleh. Harus diletakkan di tempat yang baik dengan cara yang baik.
Saya katakan kepada anak-anak bahwa mencintai simbol negara adalah bentuk cinta kita kepada negara. Hal itu yang dilakukan oleh para pahlawan Indonesia. Ketika merah putih diturunkan oleh penjajah, taruhannya adalah nyawa. Kecintaan para pahlawan kepada negara dan simbolnya menjadi alasan foto pahlawan digunakan sebagai ilustrasi di dalam mata uang. Rafa mengangguk-angguk dan adiknya teriak-teriak melihat Monumen Nasional saat kereta kami melintasi ikon Jakarta tersebut.

Merawat Rupiah, Merawat apa yang kita cintai
Sesampai di rumah, saya berikan selembar uang Rp20 ribu kepadanya—adiknya belum perlu. Lalu saya memintanya mengambil sebuah kotak bekas cinderamata yang saya dapat sebelumnya.
“Rafa, ini ayah beri uang untuk kamu tabung ya. Uangnya kamu simpan dengan baik. Diletakkan di kotak ini, jangan dilipat apalagi diremas. Jadi biarkan rapi seperti bentuk aslinya seperti semula. Ini awal uang tabunganmu kamu kumpulkan dulu. Kalau sudah banyak kalau bisa menggunakannya untuk keperluanmu,” kata saya.
Itulah awal saya mengenalkan cara merawat uang dan kebiasaan menabung kepada anak-anak. Saya katakan kepada anak-anak bahwa merawat uang itu sama pentingnya dengan kewajiban kita merawat apa yang kita cintai seperti anggota keluarga. Semakin baik kita merawat yang apa kita miliki, maka akan semakin baik hasil yang akan kita peroleh di masa mendatang. Merawat Rupiah, sama pentingnya dengan merawat Indonesia itu sendiri.  

Itulah cara saya mengajarkan kepada anak-anak saya mencintai dan menghargai Rupiah. Tentu tidak sebatas kepada anak-anak saya sendiri. Saya akan mengajarkannya kepada keponakan dan juga anak-anak lain yang saya kenal. Orangtua yang lain pun sudah seharusnya mengenalkan kepada anak-anak mereka untuk mencintai Rupiah. Hal ini penting seperti kita mengenalkan anak-anak kepada keindahan dan kekayaan Indonesia. 

Mungkinkah Menghentikan Laju Manchester City?

by the writer  |  in Premierleague at  12:00 AM
www.mancity.com

Manchester City melaju mulus menjelang pergantian tahun dari 2017 ke 2018. Manchester Biru bertengger sendiri di puncak klasemen hampir tanpa gangguan dari tim lain. Manchester United yang berada di peringkat kedua berjarak 15 poin di belakang City, sebuah jarak yang cukup lebar. Ibarat lomba berlari keliling lapangan, City sudah unggul satu lap dibanding lawan-lawannya. Hebatnya lagi, City belum terkalahkan hingga saat ini dengan 19 kali kemenangan dan satu kali hasil imbang.
Keperkasaan tersebut menunjukkan City sedang berada di top performance. Pertanyaannya adalah mungkinkah laju City dihentikan? Mugkinkah City tampil elok tanpa terkalahkan dan menyamai rekor Arsenal di 2003-2004 dengan menjuarai premier League tanpa terkalahkan? Pertanyaan tersebut sudah layak dipertimbangkan untuk dijawab, karena kompetisi sudah berjalan setengah musim .
Kehebatan City tak lepas dari beberapa pemain kuncinya yaitu David Silva, Kevin de Bruyne, Fernandinho, dan Ederson. Keempat pemain ini tampil impresif dan hampir selalu menjadi starter saat City bermain. Saat mereka bermain pada performa terbaik, City menjadi tim yang menakutkan. City saat ini menjadi tim paling subur di Premier League dengan mencetak 61 gol dan baru kebobolan 12 gol. Fantastis.
Melihat pencapaian Manchester City hingga pekan ke-20 ini, rasanya Si Manchester Biru sulit untuk dihadang. Meskipun kompetisi masih menyisakan 18 pertandingan lagi, akan berat bagi tim lain untuk menghadang David Silva cs. Kelemahan City adalah mereka sendiri yaitu bila salah satu—atau bahkan lebih—pemainnya dibekap cidera. Itulah pembuktian City nanti apakah tetap bisa digdaya seperti sekarang atau tidak.
Selain ancaman internal, ancaman berikutnya adalah ancaman dari luar yang hadir pada bursa transfer Januari. Tim-tim pesaing, khususnya 6 besar tentu saja akan berlomba untuk memperbaiki skuat mereka. Liverpool sudah memulai dengan menggaet Virgil van Dijk dari Southampton yang memecahkan rekor transfer bek termahal di dunia. Hal ini menjadi sinyal bagi City bahwa para pesaing tak akan menyerah. Tim enam besar lainnya pun akan mengikuti jejak Liverpool.

Untuk mempertahankan kesempurnaan seperti setengah musim awal akan sulit dilakukan oleh Manchester City, karena tim lain juga memperbaiki skuat mereka. Tapi untuk menjadi juara Premier League, rasanya laju Manchester City sulit dibendung.  

Wednesday, December 20, 2017

Tips Mencegah Anak Kecanduan Gadget

by the writer  |  in tips kecanduan gadget at  11:34 AM

Pada sebuah sore, istri saya mengirimkan pesan instan.
“Ayah, Azka tantrum. Jemuran dilempar-lempar, susu dibuang keluar.”
“Kenapa emang?”
“Dia lihat hape dan maksa pengen pakai, gak aku kasih terus tantrum.”
Azka adalah anak bungsu kami yang berusia 4 tahun. Membaca pesan tersebut, saya jadi teringat cerita teman yang curhat kepada saya tentang anaknya yang kecanduan gadget. Usianya setahun lebih mudah dari Azka, baru 3 tahun. Sudah hampir setahun ini anaknya sulit dipisahkan dengan gadget. Setiap hari memegang hape dan nonton video dari Youtube. Bila gadgetnya diambil si anak akan tantrum.
Terus terang saya ngeri kalau hal tersebut sampai kejadian pada anak saya. Saya tidak anti gadget. Bila digunakan secara bijak dalam porsi yang tepat, gadget bisa memberikan manfaat kepada anak. Misalnya saja anak bisa belajar menyanyi dan menari dengan melihat video di Youtube. Bahkan anak saya yang sulung akhirnya bisa membuat slime—saya bantu juga sih—setelah melihat video tutorial dari gadget. Saya pun seringkali bisa ngoprek mobil setelah lihat video tutorial yang tersebar di internet. Itu contoh manfaat dari gadget.
Namun, bila gadget digunakan secara berlebihan, mudaratnya akan lebih banyak dibanding manfaatnya. Beberapa efek buruk gadget adalah:
·         risiko obesitas, karena anak jadi kurang aktivitas fisik.
·         Kecerdasan sosial kurang berkembang, karena asyik dengan dunianya sendiri dan waktu bersosialisasi terbatas.
·         Risiko mata minus bertambah, karena terlalu sering melihat objek dalam jarak dekat dan jarang melihat objek jarak jauh.
Tiga hal di atas adalah contoh efek buruk gadget. Tentu masih ada efek lain yang akan terlalu panjang bila dijabarkan satu per satu. Kembali ke permasalahan anak bungsu saya yang tantrum karena tidak dipinjami gadget, akhirnya saya menjawab keluhan istri.
“Kalau di rumah, gadget disimpan, jangan sering main gadget. Letakkan di tempat yang tidak mudah dijangkau anak. Itu berlaku juga untuk diriku.”
Sepulang kerja, aku teringat dengan chat dengan istriku dan hal pertama yang aku lakukan adalah menyimpan gadget di dalam lemari. Ternyata ketika bapak ibunya gak sering main gadget, anak-anak juga tidak minta gadget. It’s really work for us. Tapi bila orangtua sudah bermain gadget di depan anak, otomatis anak akan minta main gadget. Like father like son lah istilahnya.
Hal tersebut kejadian ketika kami sekeluarga jalan di akhir pekan. Istri saya mengambil ponsel dari tas untuk mengecek pesan instan. Azka langsung merengek minta main gadget. Saya pun menegurnya, agar menyimpan gadget tersebut.
Dari kasus yang saya alami, mencegah anak kecanduan gadget itu sebenarnya mudah. Bila orangtua bisa menahan diri untuk tidak sering bermain gadget, anak-anak tidak akan merengek-rengek meminta gadget. Tapi bila orangtua menggunakan gadget sepanjang hari, jangan salahkan anak bila kecanduan gadget. Anak adalah imitator terbaik dari orangtuanya. Bila orangtua tidak kecanduan gadget, khususnya saat berada di rumah, rasanya kecanduan gadget pada anak bisa dicegah. Tantangan terbesar sebenarnya bukan melarang anak bermain gadget, tapi melarang diri sendiri (orangtua) kecanduan gadget. Tantangannya adalah konsistensi dari orangtua sendiri.

Saat ini saya sedang mencoba untuk membatasi diri saya sendiri. Semoga bisa konsisten. Memeluk dan mengelus anak-anak saat berada di rumah akan lebih bernilai dibanding memeluk dan mengelus layar gadget. Ayo para orangtua kita berikan waktu lebih banyak kepada anak kita, bukan kepada gadget kita, karena itu cara terbaik mencegah anak kecanduan gadget. 
Inilah tips mencegah anak kecanduan gadget dari saya. Selamat mencoba. 

(Foto: freemake.com)

Thursday, September 14, 2017

Mengolah Sampah dengan Sampah

by the writer  |  in sampah at  2:08 PM

Daripada cuman nyinyir anyir, saya coba mengalirkan energi positif saja. Semoga bisa membuat sampeyan terinspirasi atau setidaknya tersenyum.
Ini prakarya saya beberapa waktu lalu, membuat komposter dari botol bekas. Saya memakai botol plastik bekas air mineral 1,5 L. Caranya simpel. Bokong botol dipotong, tutup botol dibuang. Setelah itu botol ditanam di tanah dengan posisi potongan bokong botol di atas.
Saya pernah bikin komposter seperti ini dari pipa paralon 4 inci dan efektif untuk mengurai sampah basah seperti nasi, kulit buah, potongan sayur dll. Dulu saya punya 2 lubang dengan kedalaman sekitar 60-70 cm dan gak pernah penuh, karena sampah terurai dengan cepat. Berhubung pojok rumah saya jadikan tempat parkir motor dan sepeda, akhirnya harus merelakan dua komposter tadi.
Sekarang saya memulainya menggunakan botol plastik bekas. Satu toples bekas makanan ringan juga siap saya garap. Punya 5 lubang saja sepertinya sudah cukup. Jadi sampah yang dibuang ke tong sampah hanya sampah kering. Sampah basah biar dilahap oleh botol bekas ini.
Tenang saja, sampah yang dimasukkan ke dalam biopori sekaligus kompoter ini tidak menimbulkan bau kok. Tapi ada syaratnya. Sampah organik yang dimasukkan hanya yang berasal dari tanaman ya seperti potongan sayur, kulit buah, atau nasi. Jangan memasukkan daging, tulang, atau ikan asin. Sampah organik dari binatang bisa menimbulkan bau.
Selamat mencoba.

Tulisan ini dipindah dari halaman berikut:
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10214326720867796&set=a.1675604255860.2095424.1410085384&type=3&theater 

Thursday, February 04, 2016

Malu Bertanya, Diomelin Orang Sekampung

by the writer  |  in Mau Bertanya Nggak Sesat di Jalan at  9:01 AM

Nuryono dan Riyanto menggenjot pedal sepedanya dengan cepat. Saya mencoba mengejar mereka. Saya tahu mereka lelah seperti saya. Tapi kami harus segera sampai di kampung, karena sebentar lagi jalan di tengah sawah ini akan menjadi gelap gulita. Cerita pocong yang suka nongol di tikungan sebelum jalan kampung, sudah pasti membuat kami bergidik.
Alhamdulillah, kami mencapai ujung kampung ketika adzan maghrib berkumandang. Loloslah kami dari penampakan pocong yang sering diceritakan orang-orang kampung. Namun, ketika kami bertiga melintas rel kereta yang membatasi jalan kampung dan jalan tengah sawah, pemandangan yang tak kami duga tersuguh di depan mata. Belasan orang kampung menunggu di jalan dekat rel. Tentu saja ibu-ibu kami ada di antara mereka.
Bukan sambutan tepuk tangan atau salawat yang kami terima, tapi omelan dari ibu kami dan juga para tetangga. “Pergi gak pamit, pulang jam segini. Kirain ilang diculik orang!” itu salah satu omelan yang kami terima. Kami pun mengkeret takut dan merasa mengecil. Selanjutnya, jeweran di telinga kami terima. Kejadian tak terlupakan ini bermula dari: Malu Bertanya, akhirnya kami sesat dijalan. Seandainya kami Mau Bertanya, Nggak Sesat di Jalan deh.
Kejadian ini terjadi bertahun-tahun lalu banget, saat saya kelas 3 SD. Jadi cerita awalnya bermula saat kami bertiga merencanakan bersepeda dari kampung kami di Ceper menuju Cawas. Kedua daerah tersebut ada di daerah Klaten, Jawa Tengah. Setelah berdiskusi—cie serius amat pake diskusi segala—kami memutuskan menyambangi saudara Nuryono di Cawas, untuk minta kelereng. Kami bertiga mengayuh sepeda dengan semangat meski matahari terasa panas menyengat. Seingat saya kami berangkat sekitar jam 2 siang.
Setelah menempuh perjalanan hampir sejam. Saya bertanya apakah rumah saudara Nuryono sudah dekat. “Bentar lagi,” begitu jawab Nuryono. Hingga sejam lebih, ketika ditanya apakah sudah dekat, jawabnya pasti bentar lagi. Kami baru sadar salah jalan ketika kami melihat tulisan SMA 1 Karangdowo. Jelas kami tersesat! (Waktu kecil ternyata kami hebat. Kemarin ketika saya cek di aplikasi peta, ternyata jarak rumah kami ke SMA 1 Karangdowo sekitar 10 km!)
Setelah sadar salah jalan, kami putar balik. Sampai pertigaan Pedan, kami coba belok ke kiri. Setelah menganyuh beberapa saat, ternyata kami tak juga menemukan jalan ke rumah saudaranya. Nuryono ternyata lupa arah ke rumah saudaranya! Berabe! Akhirnya kami putuskan untuk bertanya arah pulang. Seorang bapak menunjukkan arah kepada kami. Pulanglah kami mengayuh sepeda dengan ngos-ngosan. Sudah tak jadi dapat kelereng, eh pulang-pulang dapat omelan orang sekampung.
Dari situ saya belajar, Mau bertanya itu membuat kita nggak sesat di jalan. Kebiasaan itu saya bawa sampai sekarang. Meskipun ada GPS dan aplikasi peta, jika saya ragu dengan arah tujuan, saya tetap bertanya. Lha GPS bisa menyesatkan juga kok. Teman saya pakai GPS waktu ke Lampung disesatkan di pinggir jurang!
Tidak hanya soal urusan jalan, untuk hal-hal yang tidak mengerti pun saya bertanya. Ketika saya tidak tahu atau tidak yakin kandungan obat yang diresepkan, saya bertanya kepada dokter atau apoteker. Bila saya ingin tahu produk perbankan secara lebih jelas, saya tanya kepada pihak bank yang valid seperti @BNI46 di #AskBNI.

By the way, saya baru sadar ternyata dua twit terakhir saya bertanya tentang produk perbankan :D Bagusnya, sekarang pertanyaan nasabah di media sosial pun mendapat respon yang cepat. So, jangan malu bertanya ya. Mau Bertanya Nggak Sesat di Jalan deh. Info lengkap soal bertanya agar tak tersesat ada di sini
Foto: Agung M

Proudly Powered by Blogger.