Dan aku merasa sebagai salah satu anak kos paling beruntung di seantero Jogja, bahkan mungkin Indonesia. Ibu kos ku adalah salah satu ibu kos paling oke Jogja. Bagaimana tidak? Selama sebulan penuh, anak kos di tempatku mendapatkan jatah sahur gratis selama sebulan penuh! Padahal anak kosnya ada sekitar 10 orang. Hebat bukan? Semoga ibu, bapak dan embah kos serta anak cucunya diberi kesehatan selalu dan dilancarkan rejekinya. Dan tradisi saur gratis di kos ini berlangsung selama bertahun-tahun. Suasan guyub khas Jogja terjadi pada prosesi ini, karena ibu mengajak anak-anak kos makan di ruang tengah keluarga. Kami pun merasa menjadi keluarga besar. (Sebagai bocoran lain kebaikan ibu kosku: Aku pernah telat bayar kos setengah tahun hehehehehe)
Berkah di bulan puasa tak hanya datang dan hadir di depan mata via ibu kos. Ada banyak berkah di kota Jogja yang bisa saya nikmati, yaitu melalui ta'jil di kala buka puasa. Kala itu, bersama teman-teman kos, saya biasa melakukan Safari Ramadhan ala pejabat negara. Tapi safari Ramadhan ini lebih membumi dan berbekas di hati. Safari Ramadhan ala anak kos di tempatku adalah mencari ta'jil gratis di masjid di seputaran Jogja.
Tapi tunggu dulu, biar terlihat tidak sekedar cari makan dan benar-benar mencari berkah, kita tidak asal mencari ta'jil di sembarang masjid. Biar terlihat menghargai budaya dan sejarah Islam di Jogja, biasanya aku dan teman-teman mencari ta'jil di masjid bersejarah di Jogja. Masjid yang biasa kami kunjungi adalah Masjid di dalam tembok keraton Kota Gede, Masjid Pakualaman, Masjid Gede alun-alun utara, Masjid Syuhada, Masjid Kampus UGM dan tentu saja masjid di dekat kos yang hanya perlu jalan kaki. Bagi saya sendiri, suasana paling seru adalah makan di Masjid Kota Gede. Arsitektur masjid yang unik dan keguyuban suasananya sangat menyenangkan, karena kebanyakan pesertanya hanya orang-orang di seputaran masjid.
Berkah di bulan puasa tak berhenti di situ. Sebagai salah satu penghuni setia Kampus Biru, saya juga sering menginap di loker HMJ di kala puasa. Meski tidur di kampus, biasanya saya dan teman2 tidak pusing untuk mencari berkah sahur. Alternatif pertama tentu saja Masjid kampus UGM. Selain itu, di Gelanggang UGM juga sering ada nasi bungkus gratis. Di Fakultas saya, biasanya juga ada stok makanan 'semalam' bila ada acara khusus.
Jadi untuk urusan makan, hampir sebulan penuh saya tidak mengeluarkan uang makan. Paling kalau malam ingin wedangan di angkringan baru keluar ongkos untuk segelas teh jahe dan beberapa potong gorengan. Terus terang, saya kangen suasan puasa di kota Jogja. Meski saya tak mungkin memasuki lorong waktu ala Doraemon dan mengulangi masa-masa segar itu, tapi kenangan itu lekat di hati dan otakku. Semoga, puasa lusa, saya bisa mendapatkan berkah yang tak kalah berharga dan bermakna dari berkah yang saya dapat di Jogja dulu. Amin.
Selamat berpuasa bagi yang menjalankannya dan selamat berjumpa dengan lagu:
Setiap habis ramadhan, hamba cemas kalau tak sampai
Umur hamba di tahun depan, berilah hamba kesempatan
sambungan..






