Thursday, August 20, 2009

Berburu Berkah di Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah bulan berkah bagi setiap muslim, termasuk aku. Cerita paling berkesan di bulan Ramadhan bagiku terjadi ketika aku tinggal di Jogja, medio SMA sampai kuliah. Banyak sekali cerita terukir di Indonesia mini ini kala Ramadhan. Bagi banyak orang, Ramadhan adalah bulan berlimpah berkah dalam bentuk pahala. Tapi bagi aku dan teman-teman kos maupun teman kampus, Ramadhan adalah bulan berkah dalam arti denotatif.
Dan aku merasa sebagai salah satu anak kos paling beruntung di seantero Jogja, bahkan mungkin Indonesia. Ibu kos ku adalah salah satu ibu kos paling oke Jogja. Bagaimana tidak? Selama sebulan penuh, anak kos di tempatku mendapatkan jatah sahur gratis selama sebulan penuh! Padahal anak kosnya ada sekitar 10 orang. Hebat bukan? Semoga ibu, bapak dan embah kos serta anak cucunya diberi kesehatan selalu dan dilancarkan rejekinya. Dan tradisi saur gratis di kos ini berlangsung selama bertahun-tahun. Suasan guyub khas Jogja terjadi pada prosesi ini, karena ibu mengajak anak-anak kos makan di ruang tengah keluarga. Kami pun merasa menjadi keluarga besar. (Sebagai bocoran lain kebaikan ibu kosku: Aku pernah telat bayar kos setengah tahun hehehehehe)
Berkah di bulan puasa tak hanya datang dan hadir di depan mata via ibu kos. Ada banyak berkah di kota Jogja yang bisa saya nikmati, yaitu melalui ta'jil di kala buka puasa. Kala itu, bersama teman-teman kos, saya biasa melakukan Safari Ramadhan ala pejabat negara. Tapi safari Ramadhan ini lebih membumi dan berbekas di hati. Safari Ramadhan ala anak kos di tempatku adalah mencari ta'jil gratis di masjid di seputaran Jogja.
Tapi tunggu dulu, biar terlihat tidak sekedar cari makan dan benar-benar mencari berkah, kita tidak asal mencari ta'jil di sembarang masjid. Biar terlihat menghargai budaya dan sejarah Islam di Jogja, biasanya aku dan teman-teman mencari ta'jil di masjid bersejarah di Jogja. Masjid yang biasa kami kunjungi adalah Masjid di dalam tembok keraton Kota Gede, Masjid Pakualaman, Masjid Gede alun-alun utara, Masjid Syuhada, Masjid Kampus UGM dan tentu saja masjid di dekat kos yang hanya perlu jalan kaki. Bagi saya sendiri, suasana paling seru adalah makan di Masjid Kota Gede. Arsitektur masjid yang unik dan keguyuban suasananya sangat menyenangkan, karena kebanyakan pesertanya hanya orang-orang di seputaran masjid.
Berkah di bulan puasa tak berhenti di situ. Sebagai salah satu penghuni setia Kampus Biru, saya juga sering menginap di loker HMJ di kala puasa. Meski tidur di kampus, biasanya saya dan teman2 tidak pusing untuk mencari berkah sahur. Alternatif pertama tentu saja Masjid kampus UGM. Selain itu, di Gelanggang UGM juga sering ada nasi bungkus gratis. Di Fakultas saya, biasanya juga ada stok makanan 'semalam' bila ada acara khusus.
Jadi untuk urusan makan, hampir sebulan penuh saya tidak mengeluarkan uang makan. Paling kalau malam ingin wedangan di angkringan baru keluar ongkos untuk segelas teh jahe dan beberapa potong gorengan. Terus terang, saya kangen suasan puasa di kota Jogja. Meski saya tak mungkin memasuki lorong waktu ala Doraemon dan mengulangi masa-masa segar itu, tapi kenangan itu lekat di hati dan otakku. Semoga, puasa lusa, saya bisa mendapatkan berkah yang tak kalah berharga dan bermakna dari berkah yang saya dapat di Jogja dulu. Amin.
Selamat berpuasa bagi yang menjalankannya dan selamat berjumpa dengan lagu:
Setiap habis ramadhan, hamba cemas kalau tak sampai
Umur hamba di tahun depan, berilah hamba kesempatan


sambungan..

Thursday, August 06, 2009

Ronda, Yuk Mareee....

Sebagai warga baru di sebuah komplek perumahan, tentunya saya harus bersosialisasi. Hari pertama saya pindah, langsung disambut dengan rapat RT. Ikutlah saya di rapat tersebut. Agenda yang dibahas antara lain persiapan peringatan 17 Agustus dan masalah keamanan lingkungan. Personil keamanan dari developer yang dipangkas tinggal satu orang dan hanya berjaga dari pagi hingga petang membuat warga harus melakukan ronda malam.
Saya sendiri ndak tahu pembagian jadwalnya begimana. Tapi sebagai warga yang tinggal di situ saya bertanya pada pak RT, bagaimana penjadwalan ronda dan saya dapat apa. Setelah di tanya hari libur saya apa dan saya jawab sabtu-minggu, maka pak RT memutuskan bahwa saya dapat jadwal di hari sabtu. Malam minggu kemarin adalah premier saya bertugas di pos ronda. Datang jam 12 malam dan ternyata di pos ronda sudah banyak peserta. Tak lama setelah sampai sudah ditodong panitia untuk ikut lomba gaple tingkat RT. Setelah mengiyakan dan membayar uang lomba sebesar 5 ribu, saya langsung bermain. Dari 4 orang pemain akan diambil dua orang untuk masuk babak selanjutnya. Ternyata eh, ternyata saya ada di peringkat kedua dan lolos ke babak berikutnya.
Setelah lomba selesai dan dilanjut ngobrol dan ngopi, ada ajakan lagi untuk bermain remi. Tapi ini bukan perlombaan, hanya sebagai cegak lek, pencegah ngantuk, begitu orang Jawa bilang. Metode yang dipilih adalah kasaran, begitu orang tempat saya bilang. Jadi boleh pararel dan boleh mengambil angka di tengah. Misalnya angka 4 dan 6 boleh mengambil angka lima. Kartu yang dipegang pun boleh lebih dari 7. Tanpa saya duga dan saya sangka, ternyata saya memimpin dari lap awal hingga lap akhir yang rampung jam 4 pagi. Waduh, bisa dikira gambler sama tetangga-tetangga kalau gini.
Jam 4 pagi adalah akhir dari sesi perdana ronda saya. Habis itu gak bisa tidur. Jam 9 pagi kemarin juga menjadi hari perdana Rafa berenang. Saya sempat khawatir dia bakal takut, karena pengalaman pertama. Gak tahunya, dia kegirangan gak mau naik. Wah, tiap akhir pekan bisa dapat dua ajakan nih. Dari grup ronda bakal berkata: Ronda, yuk mareee.... dari Rafa: Ayah, renang yuk....


sambungan..

Wednesday, July 01, 2009

My First B2W

My First B2W

Shared via AddThis

sambungan..

Sunday, February 01, 2009

Andai Aku Menjadi...

Begitulah judul sebuah acara reality show di sebuah stasiun televisi. Acara ini berisi aktivitas seseorang yang menjalankan tugas yang tidak biasa dilakukan oleh dirinya sendiri. Misalnya seorang bankir menjalankan tugas sebagai tukang parkir. Atau mahasiswa yang mencoba menjadi seorang penggembala sapi. Seperti itu kira-kira acara ini.

Nah, aku pun penasaran dan ingin mencoba profesi orang lain. Setelah minggu lalu jadi kuli bangunan dan bertugas mengaduk semen dan membawanya kepada pak tukang, akhir minggu ini aku menaikkan pangkatnya, bertugas sebagai tukang. Jadi kerjanya gak berat-berat amat (pikirku).

Tapi ternyata, menjadi seorang tukang tak kalah capek dibanding asisten tukang. Pekerjaan seperti membobol tembok (tapi bukan untuk nyolong loh), memotong pipa hingga mengaci tembok kulakukan. Ternyata kesimpulannya satu: Tetap aja capek. Fuih, tangan pegel-pegel, terutama ketika membobol acian tembok. Capek deh.

Dilihat dari tingkat kemudahan hingga kesulitannya, berturut-turut adalah memasang pipa air, membobol tembok, baru kemudian mengaci tembok. Yang pertama relatif gampang, tinggal potong pipa dan dilem. Kedua (meskipun paling pegel), tapi tak terlalu sulit juga. Tinggal ngukur kedalamannya saja. Nah, yang ketiga ini yang perlu ketelitian dan keahlian khusus. Dan hasilnya, acian karyakan bopeng-bopeng kayak wajah rembulan, tidak mulus seperti wajahnya Monalisa.

Tapi lagi, biar capek dan hasilnya kurang oke, tetap saja hati puas. Toh buat rumah sendiri. Setidaknya ada jejak rekamku di rumah itu, bukan Cuma karya Mas Pri (pak tukang). Akhir pekan besok, siap2 bekerja keras lagi, entah menjadi apa aku nanti...


sambungan..

Friday, January 30, 2009

Reformasi Polisi

Baru saja baca berita dari vivanews mengenai reformasi di tubuh Polri. Inti dari program yang diberi nama Quick Wins ini adalah melakukan reformasi birokrasi organisasi kepolisian ini. Ada empat program reformasi. Pertama, quick respons. Program ini hampir sama dengan telepon polisi 110 dulu kala. Tapi sekarang nomor layanannya adalah 112. Menurut Kapolri, jika ada kejahatan atau ingin melaporkan sesuatu kepada polisi, tinggal tekan 112. Dalam waktu 15 menit dijamin akan ada polisi yang datang.
Layanan pertama ini semacam layanan darurat 911 di Amerika kayaknya. Seperti yang saya baca di koran Tempo hari ini, telepon ini bisa diakses dari GSM dan CDMA. Kalau dari CDMA otomatis terhubung dengan polsek terdekat, tapi kalau dari GSM konon masuknya ke Polda Metro yang akan segera di teruskan ke daerah yang bersangkutan. Bila program ini dilakukan dengan serius, pasti bisa berjalan. Sudah banyak bukti yang bisa. Tak harus jauh2 mencontek 911 di Amerika. Sopir taksi sudah mempraktekannya. Dalam waktu 15 menit taksi pesanan sudah datang. Tak mungkin kan pak polisi kalah sigap dibanding supir taksi?
Layanan kedua adalah transparansi penerimaan anggota polisi. Jadi kalau anak, adik, kakak atau tetangga ingin jadi polisi dah gak perlu pake sogok-sogokan (yang dulu konon, bisa sampai puluhan juta rupiah). Jadi gak usah cari utangan lagi buat masukan anaknya ke akademi kepolisian. Enak bukan?
Reformasi ketiga adalah transparansi penyidikan. Kalau dulu kita lapor kemalingan motor dan pengen tahu dah ketangkep belum maling plus motornya harus nyari tahu ke kantor polisi, sekarang polisi yang akan menghubungi kita. Tiap 15 hari akan ada informasi perkembangan penyidikan tersebut. Enak nggak kalau gini? Gak usah repot wira-wiri ke kantor polisi bukan?
Yang terakhir, ini yang saya demen, adalah reformasi pelayanan publik. Jadi kalau sampeyan mau bikin SIM, ndak usah minta tolong ke calo. Menurut Pak Kapolri, pelayanan akan dibuat seringkas dan semudah mungkin. Jadi alurnya gak bikin kening berkerut seperti dulu. Menurut Pak Bambang Hendarso, dalam dua jam pengurusan SIM kelar. Tanpa biaya tambahan lagi. Apa nggak sorga ini?
Berhubung ini program baru ini hari pula diluncurkan dan ditandatangani Kapolda seluruh Indonesia, jadi belum ketahuan hasilnya. Semoga Polri benar-benar serius menjalankan program ini. Kalau Polri berhasil menjalankan empat program ini, pasti caci maki terhadap polisi akan berkurang dan berbalik menjadi pujian. So, kami tunggu buktinya pak polisi. Semoga sampeyan bisa menepati janji untuk melayani rakyat yang peras keringat membayar gaji sampeyan.


sambungan..

Monday, January 26, 2009

Tiga Hari Menjadi Kuli

Libur panjang di akhir pekan bukan berarti leha-leha bagi saya. Tiga hari ini (Sabtu-Senin) justru saya bekerja keras. Mengecat hingga mengaduk semen jadi pekerjaan seru saya selama tiga hari belakangan. Demi membangun sebuah dapur mini untuk rumah yang juga berukuran mini, kerja fisik yang cukup melelahkan ini harus dilakukan. Tujuan pertama tentu agar pekerjaan cepat beres. Tujuan kedua? Tentu biar ongkos tukang bisa diirit
Ternyata lumayan capek juga meskipun tidak kerja full seperti pak tukang. Meskipun hanya memainkan kuas di atas genteng, ternyata tangan terasa pegel-pegel juga. Meski capek, tapi hati puas dan senang. sebuah dapur mungil sudah berdiri dan beratap, meskipun belum dipercantik dengan keramik. Dua tiga hari ke depan sedang menghitung budget untuk keramik lantai dan tempat kompor. Semoga akhir pekan ini proyek keramikisasi bisa dimulai. amin.
Tapi ada pengalaman menarik hari ini yang bertepatan dengan perayaan tahun baru Imlek. Cari material bangunan jadi susah, karena banyak toko bangunan (yang di dekat rumah kebetulan Tionghoa) yang tutup. Jadilah tapi haru mencari ke toko bangunan yang agak jauh. Untung masih ada beberapa juragan lokal yang tetap buka. So, kekurangan bahan pun bisa diatasi. Wah, gong xi fa cai ternyata berimbas pada bahan bangunan juga
Sambil kumpul2 duit, sekarang juga kumpul2 tenaga dulu. Biar nanti pas weekend kondisi tubuh tetap fit dan siap jadi kuli lagi. cayo...


sambungan..

Friday, January 23, 2009

Indonesia Siapa yang Punya?

Kalau ada yang bertanya "Nona manis siapa yang punya?" jawabnya adalah "Kita semua." Jadi gak usah rebutan, semua pasti dapat jatah. Tapi kalau ada yang tanya "Indonesia siapa yang punya?" pasti jawabnya adalah "Partai kita". Para pengurus partai dan antek-anteknya pasti akan menjawab "partai kita." Kalau tak percaya tengok saja iklan partai yang hilir mudik tayang di televisi belakangan ini.
Partai yang lambangnya nyontek mercy misalnya. Mereka mengklain berhasil menurunkan BBM tiga kali. Tapi anehnya mereka tidak mengklaim menaikkan BBM berlipat kali! Ini kan aneh bin ajaib. Mereka juga (pura-pura) lupa bahwa mereka pernah menaikkan BBM sampai dengan 185 persen (ini juga pertama terjadi di Indonesia kayaknya). Padahal kalau ditelaah lebih dalam, BBM turun itu bukan karena pemerintah berbaik hati. Tapi emang harga minyak dunia terjun bebas dari 100 dolar/barel lebih menjadi kurang dari 40 dolar. Konon, menurut para ahli, dengan harga dolar di bawah 40 dolar, harga premium di Indonesia harusnya bisa kurang dari 4.000 perak (sekarang masih 4.500 perak). So, ini kan bisa jadi klaim yang menyesatkan bukan?
Partai yang berlambang pohon dan sudah mengakar sejak Soeharto jadi presiden juga punya klaim lain. Mereka mengklaim yang menciptakan perdaimaian di daerah konflik seperti Aceh. Seolah-olah mereka itu kerja sendiri, atas nama partai dan tidak ada orang lain yang membantu. Ini klaim apa lagi. Aceh dan daerah konflik damai itu banyak sekali yang turut andil. Selain pemerintah (yang sebagian besar orang partai) banyak kalangan di luar partai seperti ormas dan LSM yang ikut membantu dan peran mereka cukup besar. Lagi-lagi klaim yang ngawur bukan.
Itu cuma contoh dua partai yang kebetulan mendukung pemerintahan. Partai yang di luar sistem memang lebih banyak mengumbar janji. Tapi nggak yakin juga kalau nanti memenangkan pemilu janjinya akan ditepati. Meskipun nanti mereka menang dan tidak menepati janji, pasti mereka akan membuat klaim-klaim mengenai keberhasilan pemerintahnya, seperti partai sekarang yang menyokong pemerintah.
Jadi kalau ada yang tanya, "Indonesia punya siapa?" orang-orang partai pasti akan menjawab, "Punya kita dong. Kan kita yang memajuka Indonesia". Sungguh aneh tingkah orang-orang itu.


sambungan..